Cerita Panas Memperkosa Janda STW Sehabis Mandi

Cerita Pemerkosaan
Tips ITIL

Cerita Sex Terbaru – setelah sebelumnya ada kisah Ibu Pacarku Yang Alim Ternyata Suka Brondong, kini ada Cerita Panas Memperkosa Janda STW Sehabis Mandi. selamat membaca dan menikmati sajian khusus bacaan cerita dewasa terbaru sex bergambar yang hot dan di jamin seru meningkatkan nafsu birahi seks ngentot.

Cerita Panas Memperkosa Janda STW Sehabis Mandi

Cerita Panas Memperkosa Janda STW Sehabis Mandi

Bu Linda adalah nama ibu kostku, dia seorang janda beranak 2, semua anaknya sudah kawin dan tidak tinggal serumah lagi dengan Bu Linda. Untuk ukuran wanita setengah baya, tubuh Bu Linda masih terbilang bagus, Tubuhnya begitu montok dengan pantatnya yang semok dan buah dadanya yang besar.

Rambutnya yang hitam panjang selalu di jepitnya di belakang kepalanya. Orangnya sangat tenang dan ramah. Kalau sedang dirumah Bu Linda paling sering memakai daster sehingga bentuk tubuhnya menggodaku agar terus melihatnya. Buah dadanya yang besar itu juga sering ku lihat terkadang tanpa di tutupi BH sehingga nampak menggantung bergoyang-goyang saat badannya menunduk membersihka tanamannya.

Ada satu hari ketika itu aku kerja masuk siang jadi agak santai. Setelah aku membeli koran dan kembali ke kamar untuk membacanya, pintu kamar ku biarkan saja terbuka. Beberapa saat kemudian ku lihat ibu kost berjalan ke arah kamar mandi sambil membawa handuk, rupanya dia mau mandi.

“Koq belum berangkat Rud,” tanyanya kepadaku.

“Iya bu, hari ini masuk siang,” jawabku.

“Wah enak dong bisa santai..” kata Bu Linda lagi sambil tersenyum dan meneruskan langkahnya menuju kamar mandi.

Dari kamar mandi aku mendengar Bu Linda bersenandung kecil dengan suara bunyi air. Saat itu pikiranku langsung ngeres dengan membayangkan tubuh Bu Linda yang telanjang dan itu membuat kemaluanku mengeras. Lalu timbul keinginanku untuk mengintipnya.

Sesegera mungkin kututup pintu kamarku dan dengan sangat berhati-hati aku mencari celah sambungan papan antara kamarku dengan kamar mandi. Ternyata ada sedikit lubang tipis yang karena catnya sudah hancur, celah itu tepat agak dibawah dekat bak mandi. Dengan hati senang, aku intip Bu Linda, tampak dia telanjang bulat, badannya masih bahenol untuk ukuran usianya. Payudaranya sudah agak turun tapi besar dan menantang, sedangkan kemaluannya ditutupi bulu cukup lebat.

Aku melihat dia menyabuni dua gunungnya agak lama, lalu dia permainkan putingnya dengan jari-jari tangan kanannya, sedangkan tangan yang satu lagi menyabuni memeknya, jari tengahnya sesekali dia masukan sedangkan matanya tampak terpenjam mungkin sedang menikmati. gerakannya itu kulihat seperti orang bersetubuh.

Setelah itu Bu Linda menghentikan kegiatannya lalu berjongkok tepat menghadapku untuk mencuci BH dan celana dalamnya sehingga dapat kulihat memeknya dengan jelas. Hal itu membuat penisku langsung berdiri tegap, lalu kumainkan dengan tangaku tak kuperdulikan lagi kemungkinan seandainya Bu Linda mengetahui apa yang aku lakukan. Semakn lama nafsu ku semakin tidak terkendali, kepalaku sudah tidak bisa berfikir jernih lagi, yang ada di kepalaku sekarang adalah bagaimana caranya bisa menikmati tubuh Bu Linda.

Pada akhirnya Bu Linda pun selesai mandi, setelah mengelap tubuhnya dengan handuk, dililitkannya handuk itu menutupi tubuhnya, sedangkan pakaiannya dimasukan ke dalam ember yang ada di dalam kamar mandi.

Aku pun langsung bersiap-siap dengan rencanaku. Ketika Bu Linda melewati kamarku cepat ku buka pintu kamarku dan tanpa berkata-kata lagi kupeluk butuh Bu Linda dari belakang sambil menarik handuk yang di pakai Bu Linda hingga akhirnya telanjang, tanganku langsung meremas buah dadanya.

“Aww, aduhh.. apa-apaan ini..” Bu Linda terkejut.

“Aduhh Rud, jangan Rudi…” Bu Linda mencoba menghindar.

Aku tetap tidak perduli lagi, tangan kananku malah ku arahkan ke memeknya, ku masuk dan keluarkan lalu ku colok dengan jariku masuk ke dalamnya sambil ku ciumi lehernya dari belakang. Tubuh Bu Linda mencoba berontak agar lepas tapi aku tidak memberikan kesempatan dengan semakin mempererat pelukanku.

“Aduhh.. Rud ingat Rud.. ibu sudah tua Rud. Lepasin ibu Rud,” kata Bu Linda memohon.

“Gak bu, ibu masih seksi koq, buktinya saya nafsu sama ibu.. Udah deh mendingan ibu nikmati aja lagian kan ibu sudah lama tidak beginian,” kataku sambil memaksa.

“Tapi ibu malu rud, nanti kalau ada orang yang tahu gimana..?” tanya Bu Linda.

“Ya makanya, mending ibu nikmati saja, kalau begitu kan tidak ada yang bakal tahu,” balasku.

Akhirnya Bu Linda pun terdiam, tubuhnya tidak berusaha memberontak lagi aku pun semakin leluasa menjelajahi semua bagian tubuh Bu Linda, kadang ku elus-eluskan terkadang ku remas-remas seperti pada pantatnya yang besar dan montok itu. Menyadari sudah tidak ada penolakan dari Bu Linda, aku semakin bersemangat.

“Akhhh.. ssshhh, aaahhh, geli Rud,” Bu Linda mendesah pelan pertanda nafsu seksnya sudah bangkit.

Ku putar tubuhku menghadap Bu Linda, sambil tetap ku peluk, ku ciumi bibirnya dan lidahku kumasukan ke dalam mulutnya. Bu Linda ternyata mulai mengimbangiku, dia balas ciuman ku dengan ketat, aku dan Bu Linda bergantian saling menghisap bibir dan lidah. Sambil begitu ku tuntun tangan Bu Linda ke kemaluanku dan ku selipkan tangannya ke dalam celana pendek yang ku pakai.

Tanpa ku minta Bu Linda menarik ke bawah celanaku hingga kemaluan ku bebas mengacung. Digenggamnya penisku, dengan jempolnya ke kepala penisku dielus-elusnya kemudian dikocoknya. Buah zakarku pun tidak luput di jamahnya dengan meremasnya pelan, sesekali jarinya terasa menelusuri belahan pantatku melewati anus, sensasi seks yang kurasakan benar-benar lain.

Sementara itu, leher Bu Linda ku ciumi lalu turun ke bagian dadanya. Buah dadanya yang besar itu kuciumi, kuremas-remas, kusedot-sedot dan ku jilati sepuasnya sedangkan pada putingnya selain ku jilat, aku hisapi seperti bayi yang sedang menetek pada ibunya, ternyata membuat Bu Linda semakin hot. Tangannya mengacak-acak rambutku dan terkadang menekan kepalaku ke payudaranya.

“Aduhhh… ahhh… shhh.. terus Rud, ahhhh..”

Dengan posisi tubuh Bu Linda yang tetap berdiri, aku menurunkan badanku, kuarahkan mulutku ke selangkangannya, Bu Linda ternyata tau apa yang akan kulakukan, di bukanya kedua kakinya lebar sehingga sedikit mengangkang yang membuatku lebih leluasa menciumi memeknya.

Aku mainkan lidahku di bibir memek Bu Linda, itilnya aku jepit dengan bibirku sebelum kuhisap-hisap. Tidak ketinggalan jariku pun ku colokan masuk ke dalam memek Bu Linda.

Apa yang ku lakukan itu membuat Bu Linda semakin horny dengan mulutnya yang tak berhenti berdesah-desah.

“Ahhh… Awww.. yahhh… shh… terus Rud…”

Begitu nafsunya aku dan Bu Linda bercinta, hingga aku dan Bu Linda sudah tidak perduli lagi kalau waktu itu kami bermain di udara terbuka di belakang rumah Bu Linda. Tapi akhirnya kekhawatiranku muncul juga. Ku hentikan sejenak aktifitasku.

“Bu sebentar yah, aku mau mengunci pintu dulu, takut ada yang datang,” kataku sambil beranjak.

“Ohh iya. untung kamu ingat, tapi cepat ya Rud, ibu sudah ngak tahan neh,” jawabnya nakal. Aku pun tersenyum, sambil berlalu kuremas dulu dada Bu Linda.

Bisa dibilang jarak ke pintu hanya beberapa meter saja, berhubung aku dan Bu Linda sedang dinaungi rasa nikmat hingga tidak mau kehilangan waktu sedetik pun. Setelah menuntup pintu aku kembali, penisnya terayun-ayun waktu berjalan karena celana dalam ku terlepas meskipun aku masih memakai baju.

“Kalau pagar depan dikunci ngak Bu? tanyaku ketika sudah dekat Bu Linda.

“Dikunci koq, dari pagi Ibu belum membukanya,” jawab Bu Linda sambil merangkul tubuhku ke pelukannya.

“Rud kita pindah ke kamar yuk,” kata Bu Linda.

“Disini aja ya Bu, cari suasana lain, pasti Ibu belum pernah ngentot di sini kan sama bapak dulu.”

“Ah,, kamu ini ada-ada aja,” jawab Bu Linda sambil membuka bajuku.

Aku dan Bu Linda kembali berpelukan di atas kursi yang ku tarik dari kamar depanku, tubuh Bu Linda ku pangku di atas pahaku, Bu Linda semakin aktif menciumi ku, pentilku pun di hisap dan di jilatinya sedangkan tanganku mulai aktif mencari memeknya yang semakin basah.

Bu Linda kemudian berdiri lalu jongkok di hadapanku, di langsung memasukan mulutnya ke penisku, di hisap-hisapkannya dengan menggerakan kepalanya maju mundur, kemudian kedua telur kecil ku juga di hisapnya. Gerakan lidah Bu Linda benar-benar membuatku mabuk kepayang.

“Ahh, enak Bu..,” erangku penuh nafsu.

Tanganku juga ku arahkan ke buah dadanya yang menggantung bergoyang-goyang, sesekali ku remas rambutnya dan ku tekan kepalanya agar semakin dalam mulutnya menghisap penisku. Bu Linda lalu menghentikan hisapannya pada penisku.

“Rud, ayok penismu masukin sekarang, memek Ibu sudah pengen banget dimasukin penismu itu,” pintanya sambil membaringkan tubuhnya di atas tikar dengan kedua kakinya dilebarkan.

Tanpa basa-basi lagi, aku menyusul Bu Linda dan ku kangkangi tubuhnya dari atas, Bu Linda meraih penisku lalu di arahkannya ke lubang memeknya. Setelah pas lalu ku tekan pelan-pelan hingga penisku masuk semuanya dalam memek Bu Linda, ku tarik dan ku masukan lagi dengan gerakan semakin cepat. Mulut Bu Linda terus berdesah menahan nikmat. Tubuh Bu Linda terhentak karena dorongan tubuhku, buah dadanya yang bergerak-gerak indah ku remas penuh nafsu, sambil terus bergerak aku dan Bu Linda berpelukan erat, mulutku dan mulutnya saling hisap.

Bu Linda lalu memintaku berganti posisi di atas, aku pun berbaring dan Bu Linda duduk di atas selangkanganku setelah penisku di masukannya ke dalam memeknya. Bu Linda bergoyang-goyangkan pantatnya, terasa seperti memeknya membelit penisku. Dari bawah buah dada Bu Linda tampak lebih indah menggantung bergoyang-goyang.

Aku dan Bu Linda kembali ke posisi semula, gerakan aku dan Bu Linda semakin liar saja. Tusukan penisku semakin cepat dan diimbangi dengan gerakan pantat Bu Linda yang kadang bergoyang ke kira dan ke kanan, kadang juga ke atas dan ke bawah semakin panasnya permainan seks yang aku lakukan dengan Bu Linda. Hingga akhirnya ku rasakan cairan spermaku segera keluar.

“Bu aku mau keluar,,,” desahku.

“Ibu juga mau keluar Rud,” erangnya.

Aku dan Bu Linda saling berpelukan dengan ketat, bibirku dan bibir Bu Linda saling hisap dengan erat dan spermaku pun menyemprot di dalam memek Bu Linda.

Beberapa saat aku dan Bu Linda saling diam menikmati sisa-sisa kenikmatan. Sambil berbaring di atas tikar di bawah pohon rambutan yang rindang dengan tubuh sama-sama telanjang aku dan Bu Linda melepas lelah sambil ngobrol dan bercanda. Tanganku mempermainkan buah dada Bu Linda, entah kenapa aku suka sekali dengan buah dada Bu Linda itu.

Aku dan Bu Linda lalu pergi membersihkan badan di kamar mandi, saling gosok dan sambil meremas hingga gairah ku dan gairah Bu Linda kembali bangkit, aku dan Bu Linda kembali bersetubuh di kamar mandi sampai puas.

Wanita seusia Bu Linda memang sangat berpengalaman dalam memuaskan pasangannya, mereka tidak egois dalam menyalurkan gairah seksnya, bahkan yang kurasakan Bu Linda cenderung memanjakanku agar dapat kenikmatan yang setinggi-tingginya. Maka karena itulah aku pun merasa di tuntut untuk bisa mengimbanginya.

Gairahku kepada Bu Linda entah kenapa selalu menyala, maunya setiap hari aku bisa menggaulinya, dan ternyata Bu Linda pun demikian. Hal ini ku dengar sendiri ketika aku mengajaknya untuk bersetubuh padahal ketika itu teman kostku sedang ada di kamarnya.

Saat Bu Linda sedang mencuci piring ku dekap dia dari belakang, tapi dengan halus Bu Linda menolaknya.

“Jangan sekarang Rud, nanti temanmu tahu,” kata Bu Linda.

“Tapi Bu, aku sudah ngak tahan..” sanggahku.

“Ibu juga sama, malahan ibu pengennya setiap hari begituan sama kamu.”

Akhirnya aku mengalah dan kembali ke kamarku dengan kepala penuh hasrat yang tidak terlampiaskan. Sudah lebih dari 4 hari hasratku tidak tersalurkan, aku dan Bu Linda hanya bisa saling bertukar kode tanpa bisa berbuat lebih, hingga pada suatu sore, mendadak temanku mau pulang ke kampungnya setelah dapat telepon ibunya sakit. Setelah temanku pergi ku kunci pintu lalu segera aku mencari Bu Linda. Di dalam rumah tampak Bu Linda baru keluar dari kamarnya.

Bu Linda ketika itu memakai baju berkerudung seperti Bu Linda mau pergi mengaji.

“Mau ke mana Bu? tanyaku mendekatinya.

“Ibu mau pergi ngaji dulu Rud,” jawab Bu Linda.

“Bu, ayok dong, sudah lama nih..,” bujuku.

“Nanti aja ya Rud, Ibu cuma sebentar saja koq ngajinya.”

“Ayo lah Bu sebentar saja..,” paksaku sambil ku peluk Bu Linda.

Tanganku segera aja menjalar ke balik baju Bu Linda yang gombrong. Buah dada Bu Linda yang besar selama beberapa hari ini ku rindukan, jadi mainanku.

“Dasar kamu nakal banget,, tapi sebentar saja ya,” ucap Bu Linda sambil pasrah.

Ternyata Bu Linda sudah panas, ciuman bibirku segera di balasnya dengan begelora. Meskipun saat ini Bu Linda memakai kerudung tidak menghalangi aku dan Bu Linda untuk saling berbagi kenikmatan malahan aku merasa ada nuansa yang lain kian membuat gairah bercintaku menjadi-jadi dan permintaan Bu Linda melepaskan kerudungnya pun ku larang.

“Rud, kerudungnya Ibu lepaskan dulu yah,” tanya Bu Linda.

“Jangan Bu, biarin saja, saya semakin bernafsu melihat Ibu pakai kerudung..” larangku.

“Ahh, kamu ini ada-ada saja.”

Sambil terus berciuman Bu Linda melepas BHnya, lalu bajunya ku angkat ke atas dan ku sorongkan wajahku menjamah buah dadanya. Ku ciumi dan ku jilati sepuas-puasnya. Bu Linda merengek kecil sambil tangannya mengerumasi rambutku.

“Ahh,, shhhh,,, ahhh..” suara Bu Linda pelan.

Tangan Bu Linda menarik celanaku hingga penisku yang sudah keras itu mengacung bebas, lalu di permainkannya penisku dengan meremas-remasnya. Kain bawahan yang di pakai Bu Linda ku angkat dan ku gulungkan di pinggangnya, lalu pantatnya ku remas-remas ku tarik celana dalamnya.

“Rud, ayo cepat masukin…” pinta Bu Linda.

“Iya Bu, disini aja ya bu,” jawabku sambil membimbing tubuh Bu Linda ke kursi panjang yang ada di ruang tamu.

“Tapi nanti kalau ada orang gimana Rud?” tanya Bu Linda khawatir.

“Tenang saja bu, kan kita ngak telanjang.”

“Rud, Ibu di atas yah,” Bu Linda meminta posisi di atas.

Aku pun mengiyakan kemauan Bu Linda, ku dudukan tubuhku di atas kursi panjang dengan posisi agak berbaring, selanjutnya Bu Linda menempatkan tubuhnya di atasku, dengan kedua kaki melipat sejajar dengan pahaku, lalu Bu Linda menurunkan tubuhnya dan mengarahkan memeknya ke penisku. Penisku di pegangnya agar pas dengan lubang memeknya.

Setelah itu Bu Linda menekan tubuhnya hingga penisku masuk ke dalam memeknya sampai dasar lalu di putar-putar dengan gerakan semakin cepat. Buah dada Bu Linda yang besar bergoyang keras mengikuti gerakan tubuh Bu Linda yang semakin liar itu segera ku sosor dengan mulutku, ku ciumi dan ku hisapi hingga meninggalkan tanda merah, sementara tanganku meremas-meremas pantatnya.

Biarpun Bu Linda tidak melepaskan pakaian dan kerudungnya persetubuhan aku dan Bu Linda tetap dahsyat malah semakin membuatku bernafsu. Ku imbangi gerakan Bu Linda dengan menghentakan pantatku ke atas apabila Bu Linda menekan ke bawah hingga aku merasakan penisku seperti menghujam ke dalam memek Bu Linda, hal itu membuatnya semakin terhempas dalam kenikmatan.

“Akhhh.. akhhh.. mmhhh…” mulut Bu Linda tidak berhenti mendesah.

“Ayo Rud, terus masukan lebih dalam lagi..” katanya di sela-sela desahan.

Setelah beberapa saat aku dan Bu Linda saling menggenjot dengan posisi Bu Linda tetap di atas, kurasakan spermaku mau keluar.

“Bu, aku mau keluar..” erangku.

“Ibu juga Rud, mau keluar.. akhhh..” balas Bu Linda.

Gerakan tubuhku dan tubuh Bu Linda sudah tidak beraturan lagi, aku dan Bu Linda semakin liar menjelang klimaks. Tubuhku dan tubuh Bu Linda saling berpelukan erat, bibir ku dan bibir Bu Linda saling hisap, hingga akhirnya tubuhku dan tubuh Bu Linda sama-sama mengejang, spermaku pun tumpah di dalam memek Bu Linda. Aku dan Bu Linda bersama-sama menikmati puncak permainan seks yang bergelora walaupun tidak begitu lama.

Aku dan Bu Linda sama-sama terdiam dengan masih berpelukan menikmati sisa-sisa gairah. Setelah keadaan dirasa normal Bu Linda mengangkat tubuhnya lalu berdiri, baru tampak olehku kalau pakaian dan kerudung yang dipakai Bu Linda begitu acak-acakan akibat pertemuparan tadi.

“Sudah ya Rud, Ibu mau berangkat,” kata Bu Linda sambil beranjak menuju kamar mandi.

Aku lalu mengikutinya dan sama-sama masuk kamar mandi untuk membersihkan cairan sisa pertempuran. Sambil saling bercanda aku dan Bu Linda saling tuduh.

“Gara-gara ini nih Ibu jadi terlambat,,” kata Bu Linda sambil meremas pelan penisku yang mulai layu.

Aku hanya tersenyum mendengar gurauan Bu Linda. Setelah dirasa bersih aku dan Bu Linda keluar dari kamar mandi, aku masuk ke dalam kamarku sedangkan Bu Linda berjalan ke dalam rumah. Ku ganti kaos dan celanaku lalu aku duduk di depan kemarku sambil merokok dan baca koran. Dari dalam terlihat Bu Linda berjalan ke arahku dia sekarang sudah rapi kembali.

“Rud, ibu berangkat ngaji dulu yah..kalau mau istirahat jangan lupa pintu depan kunci dulu,” kata Bu Linda.

“Iya bu,” jawabku sambil berdiri dan berjalan mengikuti Bu Linda, iseng dari belakang ku remas pantat Bu Linda yang bergoyang-goyang. Bu Linda hanya berkata manja.

“Rud, akhh nakal kamu, belum puas ya..?”

“Ngak tahu nih bu, kalau ngelihat Ibu bawaannya jadi nafsu saja,”

Setelah menutup pintu aku kembali ke kamar untuk tidur. Malamnya aku dan Bu Linda nonton TV berdua di rumahnya, kami hanya ngobrol dan bercanda saja, tak enak juga mengajak Bu Linda bersetubuh lagi kasih sepertinya dia kecapean. Ketika aku mau kembali ke kamar telepon Bu Linda berbunyi yang ternyata dari cucunya Bu Linda yang mengatakan bahwa besok siang mau berkunjung. Wah alamat gairahku bisa tidak tersalurkan lagi nih, kataku dalam hati.

Jam setengah tujuh pagi aku bangun dan langsung bergegas ke kamar mandi, saat berjalan ke kamar mandi ku lihat Bu Linda sedang berada di dapur dengan hanya memakai daster tipis dan langsung membuat gairahku naik. Ketika mandi pikiranku tertuju terus ke Bu Linda, dan acara mandi pagi pun ku percepat. Pikirku kalau sekarang ngak bisa menikmati tubuh Bu Linda bisa gigit jari, soalnya cucu Bu Linda datang bisa berhari-hari mereka akan tinggal.

Aku segera mengganti kaos, sedangkan celana pendek tetap ku pakai biar praktis. Aku lalu mengendap-ngendap mendekati Bu Linda yang sedang berdiri di depan meja dapur dengan posisi membelakangiku. Setelah dekat dengan Bu Linda kepalaku langsung ku arahkan ke bawah pantat Bu Linda setelah terlebih dulu bagian bawah dasternya ku angkat dan langsung ku ciumi belahan pantat Bu Linda yang ternyata tidak memakai celana dalam.

“Aww.. apaan nih,,” teriak Bu Linda terkaget-kaget setelah tiba-tiba merasa ada sesuatu yang mendesak-desak pantatnya, tapi setelah tahu aku yang melakukannya Bu Linda pun tenang kembali.

“Iiihh, kamu ini ngapain sih, ngagetin Ibu aja, untung ibu ngak jantungan.”

Aku terus saja menciumi sekeliling pantat Bu Linda yang masih berwangi sabun, rupanya Bu Linda juga baru habis mandi. Dari balik dasternya, tangaku ku julurkan ke atas untuk meraih teteknya yang menggantung yang juga tidak memakai BH, setelah terpegang lalu ku remas-remas, sedangkan Bu Linda sejauh ini masih cuek saja dengan terus memilih sayuran.

“Rud, ibu sih sudah menebak kalau pagi ini kami pasti minta jatah sama Ibu,” kata Bu Linda.

“Memangnya kenapa bu? tanyaku dari dalam dasternya.

“Iya, kamu semalam dengar kan kalau cucu ibu mau datang. kasihan deh kami Rud bakal nganggur beberapa hari ini, he.. he.. hee.. hee,” jawab Bu Linda sambil tertawa sambil membayangkan penderitaanku nanti.

“Nasib-nasib..” sesalku. Bu Linda kembali tertawa mendengar ratapanku itu.

Sambil terus menciumi pantat Bu Linda, ku minta dia agar sedikit melebarkan kedua kakinya dan setelah kedua kakinya lebar mengangkang ku geser tubuhku sekami ke dalam lalu ku balikan badan dengan wajahku menghadap keatas pas di bawah memeknya.

Memek Bu Linda yang berbulu tebal itu lalu ku ciumi dan ku jilati, dan lubang memeknya ku masukan dengan jari tengahku sambil ku putar-putar di dalamnya. Bu Linda pun mengimbangi dengan menggoyang-goyangkan dan menekan-nekan pantatnya, sepertinya gairah Bu Linda pun mulau naik.

“Rud berhenti dulu sebentar,” mintanya.

Dan setelah aku menghentikan kegiatanku dengna masih tetap berdiri di tariknya kursi makan di sebelahku lalu diangkatnya satu kakinya dan di letakan di atas kursi, dengan posisi seperti itu memungkinkan aku bebas menjelajahi memeknya.

Memek Bu Linda kembali ku jelajahi dan tidak lama berselang kurasakan Bu Linda mengejang dengan kepala kini menumpu di atas meja satu tangannya menekan kepalaku tersuruh kian dalam ke memeknya.. lalu gerakan Bu Linda pun melemah kemudian terhenti, hanya terdengar nafasnya masih cepat.

Seiring dengna melemahnya gerakan Bu Linda, aku pun menghentikan permainan ku pada memek Bu Linda. Tanganku kini berpindah meremasi buah dada Bu Linda yang menggantung bergoyang-goyang karena kepala Bu Linda masih tergeletak di atas meja dan tubuhnya menjadi kondong ke depan. Mulutku ikut menyerbu buah dada Bu Linda dengan rakus ku ciumi, ku hisapi dan ku remas-remas.

Setelah merasa pulih, Bu Linda lalu bangkit dan aku pun kemudian duduk di atas kursi. Bu Linda lalu memelukku dari arah depan hingga kedua teteknya yang empuk menghimpitku karena saat itu aku masih duduk di kursi. Bu Linda menciumi kepalaku lalu ciumannya turun ke wajah, aku dan Bu Linda saling berbalas lidah.

Bu Linda lalu jongkok, di tariknya celana pendekku hingga penisku yang sudah keras itu mengacung. Di permainkannya penisku dengan mengocoknya lalu dimasukannya ke dalam mulutnya sambil dihisap-hisap.

Aku dan Bu Linda menuju ke menu utama permainan dengan menurunkan dasternya, Bu Linda lalu tengkurap diatas meja satu kakinya tetap menginjak lantai sedangkan yang satunya di angkat melintang di atas meja, menampilkan pemandangan erotis pada memeknya. Terlihat memeknya sedikit mendongkak. Segera ku arahkan penisku ke belahan memek Bu Linda, kemudian ku dorong hingga amblas dan ku tarik lagi dengan lebih cepat.

Tubuh Bu Linda terhempas terdorong oleh hentakanku, untung saja meja makan yang di jadikan tumpuan tubuh Bu Linda kuat, itupun sesekali beradu juga dengan dinding hingga menimbulkan suara berdegup.

Aku dan Bu Linda lalu berganti posisi dengan berbaring di lantai dapur. Bu Linda memiringkan tubuhnya, aku yang sudah jongkok di depannya segera mengangkat dan menahannya dengan pundak satu kaki Bu Linda hingga terpentang, lalu kuarahkan penisku ke memek Bu Linda yang tampak memerah itu dan kutusukan hingga dasar memek Bu Linda.

Ketika kurasakan saat-saat puncak sudah dekat, kusetubuhi Bu Linda dengan menindihnya dari atas, mulutku menciumi buah dada Bu Linda. Kedua kaki Bu Linda melingkar di pingganku hingga aku akhirnya klimaks, sprermaku tumpah di dalam memek Bu Linda. Aku dan Bu Linda berpelukan erat dengan bibir saling beradu sambil mengakhiri kepuasan.

Setelah itu aku dan Bu Linda segera bangkit karena khawatir kalau cucu Bu Linda datang, dan benar saja tidak lama setelah aku tidur-tiduran di kamarku terdengar cucu-cucu Bu Linda datang. Ternyata cucu Bu Linda tinggal lama karena sekolahnya sedang libur panjang, tinggal aku yang sengsara menahan gairah sama Bu Linda yang tidak dapat tersalurkan.

Akhirnya aku tidak tahan lagi, suatu sore ketika Bu Linda hendak mandi dan cucunya sedang main di depan, ku hentikan langkah Bu Linda di depan kamarku dengan berpura-pura ngobrol aku utarakan hasratku pada Bu Linda.

“Bu, saya sudah ngak tahan lagi nih,,” ucapku pada Bu Linda.

“Sabar dong Rud, kamu kan tahu sendiri cucuku, ibu juga sama, sudah kepengen, tapi yang gimana,” jawab Bu Linda.

“Tuh ibu juga sama, sudah kepengen kan ayolah Bu, sebentar saja,” desakku.

“Iya sih, tapi ngak ada kesempatannya, cucu ibu itu lho, maunya sama ibu terus..”

“Bu, gimana kalau nanti malam, setelah cucu ibu tidur, ibu pura-pura sakit perut atau setelah semua tidur ibu nanti ke sini.”

“Terus kalau pas kita lagi begitu ada yang ke kamar mandi gimana?” kata Bu Linda khawatir.

“Kitakan begituannya tidak di kamar mandi.”

“Habis dimana?.. di kamarmu?” tanya Bu Linda lagi.

“Ya ngak lah itu sih resikonya sama, di situ aja tuh, tempatnya kan gelap, orang ngak akan melihat kita, lagian kalau ada orang rumah yang keluar kita bisa segera tahu,” kataku sambil menunjuk tempat dekat pohon belimbing di depan gudang yang gelap kalau malam.

“Ya sudah deh kalau begitu, nanti malam ibu coba kesini, sudah ya nanti ada yang lihat,” jawab Bu Linda sambil tersenyum.

Saat Bu Linda berjalan, aku sempatkan meremas pantatnya setelah melihat keadaan di dalam rumah Bu Linda sepi. Bu Linda hanya merintih pelan sambil terus berjalan ke kamar mandi.

Untuk semakin mematangkan rencana, dari sehabis sholat aku berpura-pura tidur dan lampu kamarku pun kumatikan. Menjelang tengah malam sekitar jam sebelas aku dengan pintu belakang rumah Bu Linda di buka, segera ku intip dari celah jendela, dan seperti yang ku harapkan terlihat memang Bu Linda yang keluar.

Segera aku bangun dan keluar. Tanpa mengeluarkan kata, setelah menutup kembali pintu rumahnya dan melihatku keluar dari kamar, Bu Linda langsung menuju tempat yang telah direncanakan, aku menyusulnya sambil hati-hati.

Setelah berdekatan, aku dan Bu Linda langsung saling berpelukan sambil berciuman dengan panas, bibirku dan bibir Bu Linda saling balas dengan liar dan penuh nafsu untuk melepaskan hasrat yang tertunda. Tanganku dan tangan Bu Linda sama-sama sibuk saling merabah. Ku nyusupkan tanganku ke balik daster Bu Linda hingga bagian bawah daster Bu Linda ikut terangkat ketika tangaku mulai meremas ke belahan pantatnya lalu berpindah ke depan sambil merabah memeknya yang ternyata tidak bercelana dalam.

Bulu jembutnya yang lebat ku permainkan dulu dengan menarik-narik dengan pelan sebelum menjamah memeknya. Memek Bu Linda yang tembam itu lalu kupermainkan, itilnya kucubit-cubit halus, jariku lalu ku masukan ke belahan memek Bu Linda dan kuputar-putar di dalamnya. Sedangkan tangan Bu Linda segera mencari penisku yang sudah tegang di kocok-kocoknya perlahan batang penisku seperti sedang mengurut, kemudian berpindah meremas buah zakarku.

Karena situasinya tidak begitu kondusif aku dan Bu Linda tidak berlama-lama melakukan pemanasan, segera saja aku dan Bu Linda bersetubuh, dengan tetap berwaspada kalau ada orang rumah yang keluar.

Tubuh Bu Linda berdiri menyender di dinding dengan ujung daster bagian bawah di tariknya ke atas, satu kakinya naikan ke atas dan ku tahan dengan tanganku, tubuhku menghimpit tubuh Bu Linda ke dinding dan setelah dirasa posisinya pas mulai ku masukan penisku ke memek Bu Linda.

Biarpun dalam keadaan yang tidak begitu leluasa, aku dan Bu Linda saling berciuman dengan liar. Aku dan Bu Linda sama-sama penuh gairah dalam persetubuhan yang kami lakukan. Nafasku dan nafas Bu Linda saling memburu, dengan tetap menusuk-nusukan penisku tubuh Bu Linda sedikit ku angkat dengan tanganku yang sebelumnya meremas-remas bongkahan pantat Bu Linda.

Aku dan Bu Linda terus bergerak untuk saling berbagi kenikmatan dengan mulut yang tanpa mengeluarkan suara kutahan. Dengan cara seperti itu ternyata aku merasakan sensasi bersetubuh yang lain, yang tidak kalah nikmatnya dengan persetubuhan biasa. Aku dan Bu Linda menjadi lebih panas dan penuh gairah untuk segera menuntaskan permainan penuh nafsu ini.

Mukaku langsung ku arahkan di tengah-tengah payudara Bu Linda setelah Bu Linda membuka kancing dasternya, lalu ku permainkan buah dada Bu Linda dengan mulutku dengan menciumi dan menghisapinya dan pada putingnya seperti menyusui, hal itu membuat Bu Linda menahan kenikmatan.

Dan akhirnya dengan tanpa merubah posisi kami yang tetap berdiri aku dan Bu Linda sampai ke ujung klimaks, tubuhku dan tubuh Bu Linda semakin merapat, pantat Bu Linda bergoyang-goyang tak beraturan dengan semakin liar dan ku tancapkan penisku semakin kencang sedangkan bibirku dan bibir Bu Linda terus beradu dengan ganas saling melumat dan bertukar lidah, hingga pada akhirnya tubuhku dan tubuh Bu Linda sama-sama mengejang menahan kenikmatan yang tiada tara itu, spermaku pun tumpah memenuhi rongga-rongga memek Bu Linda.

Cerita Panas Memperkosa Janda STW Sehabis Mandi by Critasex.liveCerita Dewasa, Cerita Seks Hot, Cerita Mesum, Cerita ngewe, Cerita Panas, Cerita Ngentot, Kisah Pengalaman Seks, Cerita Porno, Cerita Bokep indo.

Itil Edition ReviewITIL Performance Management
Cerita Panas Memperkosa Janda STW Sehabis Mandi
by: | Rating: 5