Kunikmati Profesiku Sebagai Tukang Pijat Plus

Cerita Ngentot
Tips ITIL

Cerita Sex – setelah sebelumnya ada kisah Liburan Nikmat Bersama Adik Perempuan Istriku, kini ada cerita Kunikmati Profesiku Sebagai Tukang Pijat Plus. selamat membaca dan menikmati sajian khusus bacaan terbaru cerita sex bergambar yang hot dan di jamin seru meningkatkan nafsu birahi seks ngentot.

Kunikmati Profesiku Sebagai Tukang Pijat Plus

Kunikmati Profesiku Sebagai Tukang Pijat Plus

Aku adalah seorang pegawai swasta yang harus bekerja penuh waktu aku tentu saja memiliki keterbatasan waktu, tak mudah bagiku untuk mencari perempuan yang sesuai dengan apa yang aku harapkan. Hal ini yang mendorong aku untuk mengiklankan diriku pada sebuah surat kabar berbahasa inggris, untuk menawarkan jasa ‘full body massage’. Uang bagiku tak masalah, karena aku berasal dari keluarga menengah dan gajiku cukup, akan tetapi kepuasan yang ku raih jauh dari itu. Sehingga aku tak memasang tarif untuk jasaku itu, diberi berapapun kuterima.

Sepanjang hari itu iklanku terbit banyak respon yang kudapat, sebagian dari mereka hanya iseng belaka atau hanya ingin ngobrol. Di sore hari, kurang lebih pukul 18.00 seorang perempuan menelponku.

“Hallo dengan irdan?” suara merdu terdengar dari sana.

“Ya dengan saya sendiri” jawabku.Dan seterusnya dia mulai menanyakan ciri-ciriku. Selanjutnya,

“Eh ngomong-ngomong, berapa sich panjang yang kamu punya?” katanya.

“Yah normal sajalah sekitar 18 cm dengan diameter 4 cm.” jawabku.

“Wah lumayan juga yach, lalu apakah jasa kamu ini termasuk semuanya,” lanjutnya.

“Apa saja yang kamu butuhkan, kamu pasti puas dech..” jawabku. Dan yang sedikit mengejutkan adalah bahwa dia meminta kesediaanku untuk melakukannya dengan ditonton suaminya. Akan tetapi kurasa, ini akan menjadi pengalaman baru buatku.

Akhirnya dia memintaku untuk segera datang di sebuah hotel “R” berbintang lima di kawasan Sudirman, tak jauh dari kantor tempatku bekerja. Aku menduga bahwa pasangan ini bukanlah sembarang orang, yang mampu membayar tarif hotel semahal itu. Dan benar dugaanku, sebuah president suite room sudah ada di hadapanku. Segera kubunyikan bel di depan kamarnya. Dan seorang lelaki, dengan mengenakan kimono, berusia tak lebih dari 40 tahun membukakan pintu untukku.

“irdan?” katanya.

“Ya saya irdan,” jawabku. Lalu ia mencermatiku dari atas hingga bawah sebelum ia mempersilakan aku masuk ke dalam. Pasti dia tak ingin sembarang orang menyentuh istrinya, pikirku.

“OK, masuklah” katanya. Kamar itu begitu luas dan gelap sekali. Aku memandang sekeliling, sebuah TV berukuran 52″ sedang memperlihatkan blue filem.

Lalu aku memandang ke arah tempat tidur. Seorang perempuan yang kutaksir usianya tak lebih dari 30 tahun berbaring di atas tempat tidur, tubuhnya dimasukkan ke dalam bed cover tersenyum padaku sembari menjulurkan tangannya untuk menyalamiku.

“Kamu pasti irdan khan? Kenalkan saya Kartika” katanya lembut.

Aku terpana melihatnya, rambutnya sebahu berwarna pirang, kulitnya mulus sekali, parasnya cantik, pokoknya perfect! Aku masih terpukau dan menahan liurku, sewaktu dia berkata

“Lho kok bingung sich”.

“Akh enggak..” kataku sembari membalas salamnya.

“Kamu mandi dulu dech biar segar, tuch di kamar mandi,” katanya.

“Oke tunggu yach sebentar,” jawabku sembari melangkah ke kamar mandi. Sementara, suaminya hanya menyaksikan dari sofa di kegelapan. Cepat-cepat kubersihkan tubuhku biar wangi. Dan segera sesudah itu kukenakan celana pendek dan kaos. Aku melangkah keluar,

“Yuk kita mulai,” katanya.

dengan sedikit gugup aku menghampiri tempat tidurnya. Dan dengan bodohnya aku bertanya,

“Boleh aku lepaskan pakaianku?”, dia tertawa kecil dan menjawab,

“terserah kau saja..”.

Segera kulepaskan pakaianku, dia terbelalak melihatku dalam keadaan polos,

“Ahk.. ehm..” dan segera mengajakku masuk ke dalam bed cover juga.

“Kamu cantik sekali Kartika” kataku lirih.

Aku tak habis pikir ada perempuan secantik ini yang pernah kulihat dan suaminya memperbolehkan orang lain menjamahnya, ah.. betapa beruntungnya aku ini.

“Ah kamu bisa saja,” kata Kartika.

Segera aku masuk ke dalam bed cover, kuteliti tubuhnya satu persatu. Kedua bulatan buah dadanya yang cukup besar dan berwarna putih terlihat menggantung dengan indahnya, diantara keremangan aku masih dapat melihat dengan sangat jelas betapa indah kedua bongkah buah dadanya yang kelihatan begitu sangat montok dan kencang. Samar kulihat kedua ujung pentil mungilnya yang berwarna merah kecoklatan.

“Yaa aammpuunn..” bisikku lirih tanpa sadar,

“ia benar-benar sempurna” kataku dalam hati.

“Dan..” bisik Kartika di telingaku.

Kisah Hot Terbaru, Aku menoleh dan terjengah. Ya Ampuun, paras cantiknya itu begitu dekat sekali dengan parasku. Hembusan nafasnya yang hangat sampai begitu terasa menerpa daguku. Kunikmati seluruh keindahan bidadari di depanku ini, mulai dari parasnya yang cantik menawan, lekak-lekuk tubuhnya yang begitu seksi dan montok, bayangan bundar kedua buah buah dadanya yang besar dan kencang dengan kedua ujung pentilnya yang lancip, perutnya yang ramping dan bokongnya yang bulat padat bak perempuan remaja, pahanya yang seksi dan aah.., kubayangkan betapa indah bukit kemaluannya yang kelihatan begitu menonjol dari balik bed cover.

Hmm.., betapa nikmatnya nanti saat gagang kejantananku memasuki lobang kemaluannya yang sempit dan hangat, akan kutumpahkan sebanyak mungkin air maniku ke dalam lobang kemaluannya sebagai bukti kejantananku.

“Dan.. mulailah sayang..” bisik Kartika, membuyarkan fantasi seks-ku padanya.

Sorotan kedua matanya yang sedikit sipit kelihatan begitu sejuk dalam pandanganku, hidungnya yang putih membangir mendengus pelan, dan bibirnya yang ranum kemerahan terlihat basah setengah terbuka, duh cantiknya. Kukecup lembut bibir Kartika yang setengah terbuka. Begitu terasa hangat dan lunak. Kupejamkan kedua mataku menikmati kelembutan bibir hangatnya, terasa manis.

Selama kurang lebih 10 detik aku mengulum bibirnya, meresapi segala kehangatan dan kelembutannya. Kuraih tubuh Kartika yang masih berada di hadapanku dan kubawa kembali ke dalam pelukanku.

“Apa yang dapat kau lakukan untukku Dan..” bisiknya lirih setengah kelihatan malu.

Kedua tanganku yang memeluk pinggangnya erat, terasa sedikit gemetar memendam sejuta rasa. Dan tanpa terasa jemari kedua tanganku sudah berada di atas bokongnya yang bulat. Mekal dan padat. Lalu perlahan kuusap mesra sembari kuberbisik,

“Kartika pasti tahu apa yang akan irdan lakukan.. irdan akan puaskan Kartika sayang..” bisikku pelan. Jiwaku sudah terlanda nafsu.

Kuelus-elus seluruh tubuhnya, akhh.. mulus sekali, dengan sedikit gemas kuremas gemas kedua belah bokongnya yang terasa kenyal padat dari balik bed cover.

“Oouuhh..” Kartika mengeluh lirih.

Bagaimanapun juga anehnya aku saat itu masih bisa menahan diri untuk tak bersikap over atau kasar terhadapnya, meski nafsu seks-ku saat itu terasa sudah diubun-ubun akan tetapi aku ingin sekali memberikan kelembutan dan kemesraan kepadanya. Lalu dengan gemas aku kembali melumat bibirnya. Kusedot dan kukulum bibir hangatnya secara bergantian dengan mesra atas dan bawah.

Kecapan-kecapan kecil terdengar begitu indah, seindah cumbuanku pada bibir Kartika. Kedua jemari tanganku masih mengusap-usap sembari sesekali meremas pelan kedua belah bokongnya yang bulat pada dan kenyal. Bibirnya yang terasa hangat dan lunak berulang kali memagut bibirku sebelah bawah dan aku membalasnya dengan memagut bibirnya yang sebelah atas. ooh.., terasa begitu nikmatnya.

Dengusan pelan nafasnya beradu dengan dengusan nafasku dan berulang kali pula hidungnya yang kecil membangir beradu mesra dengan hidungku. Kurasakan kedua lengan Kartika sudah melingkari leherku dan jemari tangannya kurasakan mengusap mesra rambut kepalaku.

Gagang kejantananku terasa semakin besar apalagi karena posisi tubuh kami yang saling berpelukan erat membuat gagang kejantananku yang menonjol dari balik celanaku itu terjepit dan menempel keras di perut Kartika yang empuk, sejenak kemudian kulepaskan pagutan bibirku pada bibir Kartika.

Parasnya yang cantik tersenyum manis padaku, kuturunkan parasku sembari terus menjulurkan lidah di permukaan perutnya terus turun dan sampai di daerah yang paling kusukai, wangi sekali baunya. Tak perlu ragu.

“Ohh apa yang akan kau lakukan.. akh..” tanyanya sembari memejamkan mata menahan kenikmatan yang dirasakannya. Beberapa saat kemudian tangan itu malah mendorong kepalaku semakin bawah dan..,

“Nyam-nyam..” nikmat sekali kemaluan Kartika. Oh, bukit kecil yang berwarna merah merangsang birahiku.

Kusibakkan kedua bibir kemaluannya dan,

“Creep..” ujung hidungku kupaksakan masuk ke dalam celah kemaluan yang sudah sedari tadi becek itu.

“Aawwhh.. kamu nakaal,” jeritnya cukup keras. Terus terang kemaluannya adalah terindah yang pernah kucicipi, bibir kemaluannya yang merah merekah dengan bentuk yang gemuk dan lebar itu membuatku semakin bernafsu saja. Bergiliran kutarik kecil kedua belah bibir kemaluan itu dengan mulutku.

“Ooohh lidahmu.. ooh nikmatnya irdan..” lirih Kartika.

Sementara aku asyik menikmati bibir kemaluannya, ia terus mendesah merasakan kegelian, persis seorang perempuan perawan yang baru merasakan seks untuk pertama kali, kasihan perempuan ini dan betapa bodohnya suaminya yang hanya memandangku dari kegelapan.

“Awwhh.. sayang.. Kartika suka yang itu yawwhh.. sedoot lagi dong sayang oogghh,” ia mulai banyak menggunakan kata sayang untuk memanggilku. Sebuah panggilan yang sepertinya terlalu mesra untuk tahap awal ini. Lima menit kemudian..

“sayang.. Aku ingin cicipi punya kamu juga,” katanya seperti memintaku menghentikan tarian lidah di atas kemaluannya.

“Ahh.. baiklah Kartika, sekarang giliran Kartika,” lanjutku kemudian berdiri mengangkang di atas parasnya yang masih berbaring. Tangannya langsung meraih gagang kemaluan besarku dan sekejap terkejut menyadari ukurannya yang jauh di atas rata-rata.

“Okh Dan.. indah sekali punyamu ini..” katanya padaku, lidahnya langsung menjulur kearah kepala kemaluanku yang sudah sedari tadi tegang dan amat keras itu.

“Mungkin ini nggak akan cukup kalo masuk di.. aah mm.. nggmm,” belom lagi kata-kata isengnya keluar aku sudah menghunjamkan burungku kearah mulutnya dan,

“Croop..” langsung memenuhi rongganya yang mungil itu. Matanya menatapku dengan pandangan lucu, sementara aku sedang meringis merasakan kegelian yang justru semakin membuat senjataku tegang dan keras.

“Aduuh enaak.. oohh enaknya Kartika oohh..” sementara ia terus menyedot dan mengocok gagang kemaluanku keluar masuk mulutnya yang kini tampak semakin sesak. Tangan kananku meraih buah dada besarnya yang menggelayut bergoyang kesana kemari sembari tangan sebelah kiriku memberi rabaan di punggungnya yang halus itu. Sesekali ia menggigit kecil kepala kemaluanku dalam mulutnya,

“Mm.. hmm..” hanya itu yang keluar dari mulutnya, seiring telapak tanganku yang meremas keras daging empuk di dadanya.

“Crop..” ia mengeluarkan kemaluanku dari mulutnya. Aku langsung menyergap pinggulnya dan lagi-lagi daerah selangkangan dengan bukit berbulu itu kuserbu dan kusedot cairan mani yang sepertinya sudah membanjir di bibir kemaluannya.

“Aoouuhh.. Kartika nggak tahan lagi sayang ampuun.. Dann.. hh masukin sekarang juga, ayoo..” pintanya sembari memegang bokongku. Segera kuarahkan kemaluanku ke selangkangannya yang tersibak di antara pinggangku menempatkan posisi lobang kemaluannya yang terbuka lebar, pelan sekali kutempelkan di bibir kemaluannya dan mendorongnya perlahan,

“Ngg.. aa.. aa.. aa.. ii.. oohh masuuk.. aduuh besar sekali sayang, oohh..” ia merintih, parasnya memucat seperti orang yang terluka iris.

Aku tahu kalo itu adalah reaksi dari bibir kemaluannya yang terlalu rapat untuk ukuran burungku. Dan Kartika merupakan perempuan yang kesekian kalinya mengatakan hal yang sama. Akan tetapi jujur saja, ia adalah perempuan setengah baya tercantik dan terseksi dari semua perempuan yang pernah kutiduri.

Buah dadanya yang membusung besar itu langsung kuhujani dengan kecupan-kecupan pada kedua ujung pentilnya secara bergiliran, sesekali aku juga berusaha mengimbangi gerakan turun naiknya diatas pinggangku dengan cara mengangkat-angkat dan memiringkan pinggul hingga membuatnya semakin bernafsu, akan tetapi tetap menjaga ketahananku dengan menghunjamkan kemaluanku pada setiap hitungan kelima.

Tangannya menekan-nekan kepalaku kearah buah dadanya yang tersedot keras sementara burungku terus keluar masuk semakin lancar dalam lobang senggamanya yang sudah terasa banjir dan amat becek itu. Ujung pentil buah dadanya yang ternyata merupakan titik nikmatnya kugigit kecil hingga perempuan itu berteriak kecil merintih menahan rasa nikmat sangat hebat, untung saja kamar tidur tersebut terletak di lantai dua yang cukup jauh untuk mendengar teriakan-teriakan kami berdua.

Puas memainkan kedua buah dadanya, kedua tanganku meraih kepalanya dan menariknya kearah parasku, sampai disitu mulut kami beradu, kami saling memainkan lidah dalam rongga mulut secara bergiliran. Sesudah itu lidahku menjalar liar di pipinya naik kearah kelopak matanya melusiai seluruh paras cantik itu, dan menggigit daun telinganya. Genjotan pinggulnya semakin keras menghantam pangkal pahaku, burungku semakin terasa membentur dasar lobang senggama.

“Ooohh.. aa.. awwhh.. awwhh.. mmhh gelii oohh enaknya, Dann.. ooh,” desah Kartika.

“Yawwhh enaak juga Kartika.. oohh rasanya nikmat sekali, yawwhh.. genjot yang keras Kartika, nikmat sekali seperti ini, oohh enaakk.. oohh Kartika oohh..” kata-kataku yang polos itu keluar begitu saja tanpa kendali. Tanganku yang tadi berada di atas kini beralih meremas bongkahan bokongnya yang bahenol itu. Setiap ia menekan ke bawah dan menghempaskan kemaluannya tertusuk burungku, secara otomatis tanganku meremas keras bongkahan bokongnya. Secara refleks pula kemaluannya menjepit dan berdenyut seperti menyedot gagang kejantananku.

Hanya sepuluh menit sesudah itu goyangan tubuh Kartika terasa menegang, aku mengerti kalo itu adalah gejala orgasme yang akan segera diraihnya,

“Dann.. awwhh aku nngaak.. nggak kuaat awwhh.. awwhh.. oohh..”

“Taahaan Kartika.. tunggu saya dulu ngg.. ooh enaknya Kartika.. tahan dulu .. jangan keluarin dulu..” Tapi sia-sia saja, tubuh Kartika menegang kaku, tangannya mencengkeram erat di pundakku, dadanya menjauh dari parasku hingga kedua telapak tanganku semakin leluasa memberikan remasan pada buah dadanya. Aku sadar sulitnya menahan orgasme itu, hingga aku meremas keras buah dadanya untuk memaksimalkan kenikmatan orgasme itu padanya.

“Ooo.. ngg.. awwhh.. sayang sayang.. sayang.. ooh enaak.. Kartika kelauaar.. oohh.. oohh..” teriaknya panjang mengakhiri babak permainan itu. Aku merasakan jepitan kemaluannya disekeliling burungku mengeras dan terasa mencengkeram erat sekali, desiran zat cair kental terasa menyemprot enam kali di dalam lobang kemaluannya sampai sekitar sepuluh detik kemudian ia mulai lemas dalam pelukanku.

Sementara itu makin kupercepat gerakanku, makin terdengar dengan jelas suara gesekan antara kemaluan saya dengan kemaluannya yang sudah dibasahi oleh cairan dari kemaluan Kartika. “Aaakhh.. enakk!” desah Kartika sedikit teriak.

“Kartika.. saya mau keluar nich.. eesshh..” desahku pada Kartika.

“Keluarkanlah sayang.. eesshh..” jawabnya sembari mendesah.

“Uuugghh.. aaggh.. eenak Kartika..” teriakku sedikit keras dengan bersamannya spermaku yang keluar dan menyembur di dalam kemaluan Kartika.

“Hemm.. hemm..” suara itu cukup mengagetkanku. Ternyata suaminya yang sedari tadi hanya menonton kini sudah bangkit dan melepas kimononya. “Sekarang giliranku, terima kasih kau sudah membangkitkanku kau boleh meninggalkan kami sekarang,” katanya seraya memberikan segepok uang padaku.

Aku segera memakai pakaianku, dan melangkah keluar. Kartika mengantarkanku kepintu sembari menghadiahkanku sebuah kecupan kecil, katanya “Terima kasih yach.. sekarang giliran suamiku, karena ia butuh melihat permainanku dengan orang lain sebelum ia melakukannya.”

“Terima kasih kembali, kalo Kartika butuh saya lagi hubungi saya saja,” jawabku sembari membalas kecupannya dan melangkah keluar.

“Akh.. betapa beruntungnya aku dapat ‘order’ melayani perempuan seperti Kartika,” pikirku puas. Ternyata ada juga suami yang rela mengorbankan istrinya untuk digauli orang lain untuk memenuhi hasratnya.

Kunikmati Profesiku Sebagai Tukang Pijat Plus by Critasex.liveCerita Dewasa, Cerita Seks Hot, Cerita Mesum, Cerita ngewe, Cerita Panas, Cerita Ngentot, Kisah Pengalaman Seks, Cerita Porno, Cerita Bokep indo.

itil review
Kunikmati Profesiku Sebagai Tukang Pijat Plus
by: | Rating: 5